ETIKA ALAM SEKITAR EBOOK

adminComment(0)

Kementerian Sains, Teknologi dan Alam Sekitar, Malaysia. Ministry of Science Pencegahan dan kawalan Pencemaran dan Kemerosotan Alam Sekitar. Prevention . etika yang tertinggi. Exercise .. Ekosistem buku ILLTt, larut= Matang, Fuk. Abstract. The concept of sustainable development is the best concept available thus far for balancing development and environment. The view. Etika alam sekitar ebook ebook difiore atlas of histology high school musical what about us funy van dannen dj wich the golden touch driver.


Etika Alam Sekitar Ebook

Author:MARNIE POPELKA
Language:English, Dutch, German
Country:Montenegro
Genre:Health & Fitness
Pages:380
Published (Last):29.08.2016
ISBN:322-3-54251-902-1
ePub File Size:25.77 MB
PDF File Size:19.65 MB
Distribution:Free* [*Register to download]
Downloads:37939
Uploaded by: DWAYNE

Mohammad Hatta, dalam buku Alam Pikiran Yunani, juga memulai kajiannya Di era neolitikum, sekitar tahun – SM, penduduk Indonesia asli telah dan Etika Jawa: sebuah Analisa Filsafat tentang Kebijaksanaan Hidup Jawa. Semua unit perniagaan dan pekerja Smiths adalah tertakluk 1 Smiths Group plc Kod etika perniagaan. Sebagai . kita juga disertakan buku panduan latihan. Etika alam sekitar daripada perspektif Islam, timur dan barat / Mohd Zuhdi Marsuki, Source: Springer eBooksMaterial type: Book; Format: electronic available.

Apakah penyebutan isme-isme dalam struktur Filsafat Barat dapat diterapkan pada struktur Filsafat Indonesia? Ada 2 kemungkinan.

Asas etika alam sekitar dalam konsep pembangunan mampan

Tan Malaka dan D. Aidit, karena itu, dapat disebut sebagai filosof Marxist. Tapi, pada galibnya, filosof-filosof Indonesia memiliki doktrin-doktrin khas, yang berbeda dari yang biasa ditemukan dalam teks-teks Filsafat Barat. Jadi, peneliti filsafat boleh saja meminjam kategorisasi isme Barat atau boleh pula membuat kategorisasinya sendiri, sesuai dengan tema-tema yang diangkat oleh seorang filosof di negaranya.

Kedua cara pembuatan isme tadi akan kita terapkan pada struktur Filsafat Indonesia. Cara 1 penulis terapkan ketika membuat isme-isme seperti Soekarnoisme dan Soehartoisme. Untuk maksud pengantar, disini akan dibahas sedikit tentang isme-isme dalam Filsafat Indonesia.

Artinya, suatu filsafat digabungkan dengan filsafat lainnya untuk membentuk struktur filsafat yang baru. Biasanya, filsafat-filsafat yang dicampur-baur itu berlawanan sifatnya, berbeda isinya, kontras nuansanya.

Contoh sintesisme yang paling populer di mata sejarawan filsafat ialah apa yang dilakukan Mpu Prapanca , seorang filosof yang hidup di masa pemerintahan Kertanegara dari Dinasti Singhasari. Cara yang sama juga ditempuh oleh Mpu Tantular, seorang filosof yang hidup di masa pemerintahan Hayam Wuruk , yang menulis buku Sutasoma, di dalamnya ia berhasil memadukan filsafat Buddhisme dengan Syiwaisme-Hindu.

Perpaduan dua filsafat India yang amat berbeda itu—Buddhisme justru lahir di India sebagai reaksi negatif terhadap Hinduisme—oleh filosof-filosof Indonesia melahirkan corak filsafat yang baru, yang terkenal sebagai filsafat Tantrayana. Soekarno, seorang pendiri Republik kita, juga seorang sintesist. Dia mencoba menyintesa tiga aliran filsafat yang amat bertolak-belakang: Nurcholish Madjid, seorang filosof Islam, juga seorang sintesist.

Beliau mencoba menyintesa tiga aliran filsafat yang berbeda: Berbeda dengan Soekarno, Nurcholish sangat berhasil, karena amat didukung penguasa saat itu. Artinya, suatu filsafat diubah sedemikian rupa, sehingga menjadi sesuai dengan situasi Iindonesia dan dapat digunakan dalam konteks Indonesia. Biasanya, yang disesuaikan dengan kondisi dan situasi Indonesia adalah filsafat-filsafat asing, bukan filsafat asli Indonesia sendiri.

Filosof yang tergolong isme ini umumnya berasumsi bahwa segala produksi filsafat bersifat lokal, regional, dan partikular; tidak ada filsafat yang universall secara absolut. Karena itu pula, kebenaran filsafat tidak pernah universal-absolut. Menurut logika mereka, misalnya, Marxisme yang lahir dari sejarah lokal Barat tidak bisa diterapkan atau dicangkok begitu saja pada sejarah kongkrit Indonesia, karena kedua area itu memiliki struktur budaya dan peradaban yang berbeda.

Marxisme yang hendak dibangun akar-akarnya di Indonesia harus diubah sedemikian rupa, sehingga sesuai dengan alam Indonesia. Utami Munandar, D. Aidit, dan lain-lain adalah contoh dari filosof adaptasionist yang mengadaptasikan Filsafat Barat ke dalam situasi kongkrit Indonesia. Nasi goreng adalah makanan asli tradisional yang biasanya digoreng dengan minyak kelapa. Namun, jika margarin yang berasal dari Belanda dapat membuat nasi goreng itu bertambah enak, maka tak ada alasan seseorang harus menolak penggunaan margarin itu, selama yang menggorengnya ialah orang Indonesia sendiri.

Begitu pula dengan H. Lamaisme Isme ini bertolak dari pandangan, bahwa segala tradisi lama, tradisi primordial, dan tradisi asli Indonesia adalah tradisi yang harus dilestarikan, sebab dalam tradisi itulah terletak asal dan tujuan keberadaan manusia Indonesia, alpha dan omega kehidupan manusia Indonesia, sangkan dan paran dari penciptaan manusia Indonesia.

Semua filosof etnik Indonesia seperti M. Nasroen, Sunoto, R.

The Synthetic Age

Pramono Jakob Sumardjo, P. Lamaisme menjadi trend kembali di era Orde Baru, karena filosof lamaist menemukan borok-borok modernisasi Barat sekuler yang diusulkan filosof baruist. Semua filosof agama, baik dari Islam, Katolik, Protestantisme, Buddhisme, Hinduisme, dan Konfusianisme, yang menolak pembaruan religious reforms dalam dogmatika tradisionalnya juga dapat masuk dalam kelompok lamaisme ini.

Baruisme Isme ini adalah lawan dari lamaisme. Apa yang hendak dilestarikan oleh lamaisme akan diserang dan dibatalkan oleh baruisme, karena ia bertolak pada anggapan bahwa segala tradisi lama adalah tradisi yang tidak membawa kepada kemajuan, tradisi usang yang tidak lagi relevan dengan zaman yang terus berubah, atau tradisi dekaden yang apabila tetap dilestarikan akan membuat Indonesia tidak pernah maju.

Account Options

Isme ini sangat anti dengan filsafat etnik asli, karena, dalam logika tokoh-tokohnya, filsafat etnik masih melestarikan feudalisme dan sukuisme yang justru dianggap sebagai musuh kebudayaan baru Indonesia.

Tan Malaka, dalam bukunya Massa Actie, amat mencela tradisi lama dan mengusulkan tradisi baru yang diambil dari tradisi Barat. Begitu pula halnya dengan Sutan Takdir. Sejak polemiknya yang terkenal di era an dengan Ki Hajar Dewantara hingga tulisan-tulisannya sampai beliau wafat, Sutan Takdir secara konsisten mengutuk tradisi lama dan mengusulkan tradisi baru Barat sebagai gantinya.

Nurcholish, lantas, mengusulkan desakralisasi atau sekularisasi, yang pada intinya merupakan pemutusan langsung direct shift dan penolakan tegas untuk melestarikan Masyumisme kuno. Sebagai gantinya, Nurcholish menciptakan prinsip baru yang amat revolusioner di era an, Islam, Yes!

Partai Islam, No! Terpimpinisme bertolak dari pandangan bahwa rakyat Indonesia masih membutuhkan figur seorang pemimpin yang dapat mendidik mereka, melindungi mereka, menunjuki mereka, dan memandu mereka untuk menuju kemajuan.

Soeharto dapat pula dimasukkan ke dalam filosof terpimpinist ini. Lalu pertanyaannya kemudian adalah apakah sejarawan filsafat Indonesia juga harus mengikuti pembagian periode seperti itu?

Jika memang harus mengikuti periodisasi Barat dan Cina itu, kapankah periode Klasik dari Filsafat Indonesia itu? Bisa saja dikatakan bahwa periode Klasik dari Filsafat Indonesia adalah periode yang dihitung sejak era neolitik sekitar SM hingga awal abad 19 M, lalu periode Modern sejak awal abad 19 M hingga era Soeharto lengser, dan periode Kontemporer sejak Soeharto lengser hingga detik ini Sekilas nampaknya periodisasi tadi tidak problematik, tapi jika ditelaah lebih dalam mengandung banyak persoalan.

Persoalan-persoalan yang muncul ialah seperti: Apakah perbedaan periode itu didasarkan pada perbedaan point of concern pusat perhatian yang dikaji filosof di era tertentu? Banyaknya persoalan yang muncul dengan mengikuti periodisasi ala Barat dan Cina menunjukkan, bahwa model periodisasi seperti itu tidak tepat untuk sejarah Filsafat Indonesia. Harus dicari model periodisasi lain yang dapat memuat kurang-lebih segala filsafat yang pernah diproduksi sejak era neolitikum hingga sekarang.

Di bawah ini akan diajukan 2 model periodisasi yang mungkin lebih cocok untuk penulisan sejarah Filsafat Indonesia. Periodisasi Berdasarkan Interaksi Budaya Periodisasi Filsafat Indonesia dapat dibuat berdasarkan datangnya budaya-budaya asing yang berinteraksi dengan budaya asli Indonesia, dengan cara membuat kronologi historis dan menyebutkan dari budaya dunia mana sumber filosofis itu berasal-mula.

Periode Etnik dimulai ketika filsafat etnik asli Indonesia masih dipeluk dan dipraktekkan oleh orang Indonesia sebelum kedatangan filsafat asing. Filsafat Indonesia pada periode Etnik, misalnya, berisi mitologi filosofis, pepatah-petitih, peribahasa, hukum adat, dan segala yang asli dalam filsafat-filsafat etnik Indonesia.

Periodisasi Berdasarkan Kejadian Historis Penting Periodisasi Filsafat Indonesia juga dapat dibuat berdasarkan kejadian-kejadian penting dalam perjalanan sejarah Indonesia, seperti periode pra-Kemerdekaan, periode Kemerdekaan, periode Soekarno, periode Soeharto, dan periode paska-Soeharto. Yang termasuk dalam periode pra-Kemerdekaan ialah filsafat-filsafat mitologi etnik asli Indonesia, filsafat adat etnik Indonesia, filsafat Konfusianisme, filsafat Hinduisme dan Buddhisme, filsafat Tantrayana, filsafat Islam-Arab, filsafat Sufisme Persia, dan filsafat Pencerahan Barat.

Sedangkan filsafat-filsafat yang masuk dalam periode Kemerdekaan ialah filsafat Modernisme Islam, filsafat Marxisme-Leninisme, filsafat Maoisme, filsafat Sosialisme Demokrat, dan filsafat Demokrasi. Periode Soeharto dimulai ketika filsafat Modenisasi dan Developmentalisme didewa-dewakan, kemudian filsafat Pancasila, filsafat Ekonomi Pancasila, filsafat Kebatinan, filsafat sekularisme yang sedang marak.

Periode paska-Soeharto dimulai ketika kritik terhadap filsafat Developmentalisme marak dan filsuf mencari alternatif pada filsafat-filsafat lain seperti Liberasionisme, Transformatifisme, Reformisme, dan Revolusionisme.

Kegunaan metode dalam lapangan filsafat sungguh sangat besar. Filsafat adalah realitas yang terus bergerak abadi dan berseliweran di depan mata seorang filosof, karena sejarah waktu dan ruang terus berubah abadi. Hanya metodelah yang mampu membuat still photo dari realitas filsafat yang bergerak abadi itu. Banyak sekali metode yang dapat digunakan untuk memahami gejala filsafat di Indonesia, mulai dari yang imported hingga yang dikembangkan sendiri di tanah-air.

Di bawah ini hanya sekadar contoh dari beberapa metode pengkajian filsafat yang telah dilakukan oleh beberapa pengkaji Filsafat Indonesia. Metode Survival Economy Metode ini mengingatkan kita pada dikotomi superstructure-infrastructure dalam Marxisme.

Marx pernah berpendapat bahwa produksi budaya superstructure —mencakup agama, seni, dan filsafat—berjalan bersamaan dengan jenis produksi ekonomis infrastructure. Bahkan, infrastructurelah yang menentukan corak superstructure. Begitupula dengan mode of production kapitalisme, yang melahirkan budaya kapitalistik.

Menurut Jakob, filsafat suatu masyarakat di Indonesia tergantung pada cara masyarakat itu bertahan hidup survive ; cara masyarakat itu memanfaatkan alam sekitarnya demi kelangsungan hidup komunalnya.

Jika masyarakat itu dapat bertahan hidup dengan cara bersawah, maka filsafat yang diproduksi akan berhubungan dengan sawah konsep kesuburan, konsep hari baik, konsep musim baik, konsep hidup sesuai alam, dll.

Asas etika alam sekitar dalam konsep pembangunan mampan

Metode Historis Metode ini adalah metode yang paling kuno untuk mengkaji fenomena kemanusiaan, termasuk fenomena filsafat. Filsafat Indonesia pertama-tama ditaruh dalam bingkai sejarah, lalu diurai dalam suatu kronologi, kemudian dalam kronologi itu dimasukkan nama-nama tokoh Filsafat Indonesia.

Titik-tolak Ferry ialah pandangan bahwa filsafat—dimanapun dan kapanpun ia diproduksi— merupakan produk sejarah, dan karena itu, maka konteks sejarah yang melingkari filsafat itu harus ditemukan jika filsafat hendak dipahami secara lebih baik. Filsafat Marxisme, misalnya, akan lebih baik dipahami jika ditemukan konteks historis yang melingkari produksi Marxisme itu: Realitas politik apa di era Marx dan Engels hidup yang mendorong mereka membangun classless society?

Jika semua pertanyaan itu dapat ditemukan jawabannya lewat kajian historis, maka filsafat Marxisme dapat dipahami secara lebih dalam. Metode Komparasi dan Kontras Cara lain untuk mengkaji Filsafat Indonesia ialah dengan cara mencari perbedaan dan kesamaan di antara filsafat-filsafat sejagat yang ada, lalu perbedaannya ditunjukkan, sehingga nampak fitur distingtif dari Filsafat Indonesia.

Nasroen menggunakan metode perbandingan dan kontras untuk menunjukkan segi-segi berbeda dari Filsafat Indonesia yang membedakannya dari filsafat-filsafat sejagat lainnya dalam karyanya Falsafah Indonesia.

Ia membandingkan tradisi Filsafat Barat, Filsafat Timur, dan Filsafat Indonesia, lalu berkesimpulan bahwa Filsafat Indonesia amat berbeda dari dua filsafat lainnya karena mengajarkan ajaran-ajaran asli tentang mupakat, pantun-pantun, Pancasila, hukum adat, ketuhanan, gotong-royong, dan kekeluargaan.

Metode Kritik Teks Metode ini mengkaji Filsafat Indonesia langsung dari teks-teks filsafat yang diwariskan seorang filosof tertentu. Artinya, semua karya seorang filosof Indonesia dikumpulkan, lalu ditelaah secara seksama, diperhatikan konsep-konsep utamanya.

Setelah selesai ditelaah, dibangunlah beberapa kesimpulan tentang teks itu, dan dari kesimpulan itu dibangunlah pengertian tentang struktur filsafat yang dibangun teks itu.

Metode ini telah diterapkan P. Zoetmulder, Sunoto, R.

Pramono, dan Jakob Sumardjo dalam karya-karya mereka. Untuk memahami konsep-konsep kenegaraan Jawa Kuno, Sunoto mengunjungi candi-candi di Jawa, mengamati relik-relik candi untuk merenungi pesan cerita yang dipahatkan di atasnya, menghirup udara di sekitar candi, bersemadi di dalam area candi untuk merasakan auranya, mencoba memasukkan citra fisik dan citra metafisik dari candi itu ke dalam badan dan jiwanya, dan saat itu semua berhasil diinternalisir, Sunoto menghentikan semadinya dan kemudian membangun konsep-konsep subjektif tentang konsep kenegaraan Jawa darinya.

Selain metode di atas, tentu saja masih banyak metode lainnya yang dapat dipakai dalam memahami gejala dan realitas Filsafat Indonesia. Filsafat Etnik 1. Metafisika dalam Budaya Jawa 2. Metafisika dalam Budaya Sunda 3. Metafisika dalam Budaya Bugis 4.

Metafisika dalam Budaya Bali 5. Metafisika dalam Budaya Batak 6. Metafisika dalam Budaya Riau 7.

You might also like: EBOOK PEMBELAJARAN KOOPERATIF

Metafisika dalam Budaya Lombok 8. Metafisika dalam Budaya Kalimantan 9. Metafisika dalam Budaya Sulawesi Metafisika dalam Budaya Papua Etika dalam Budaya Sunda Etika dalam Budaya Batak Etika dalam Budaya Bugis Etika dalam Budaya Kalimantan Etika dalam Budaya Papua Teori Pengetahuan dalam Budaya Jawa Teori Pengetahuan dalam Budaya Bali Teori Pengetahuan dalam Budaya Lombok Teori Pengetahuan dalam Budaya Sunda Teori Pengetahuan dalam Budaya Papua Teori Pengetahuan dalam Budaya Riau Teori Pengetahuan dalam Budaya Kalimantan Teori Pengetahuan dalam Budaya Batak Konsep Kekuasaan dalam Budaya Jawa Konsep Kekuasaan dalam Budaya Bali Konsep Kekuasaan dalam Budaya Batak Konsep Kekuasaan dalam Budaya Bugis Konsep Kekuasaan dalam Budaya Kalimantan Konsep Kekuasaan dalam Budaya Papua Konsep Manusia dalam Budaya Jawa Konsep Manusia dalam Budaya Bali Konsep Manusia dalam Budaya Batak Konsep Manusia dalam Budaya Bugis Konsep Manusia dalam Budaya Riau Konsep Manusia dalam Budaya Papua Kosmologi dalam Budaya Jawa Kosmologi dalam Budaya Sunda Kosmologi dalam Budaya Bali Kosmologi dalam Budaya Bugis Kosmologi dalam Budaya Lombok Kosmologi dalam Budaya Sulawesi Kosmologi dalam Budaya Papua Konsep Tuhan dalam Budaya Jawa Konsep Tuhan dalam Budaya Bali Konsep Tuhan dalam Budaya Lombok Konsep Tuhan dalam Budaya Lampung Konsep Tuhan dalam Budaya Palembang Konsep Tuhan dalam Budaya Aceh Konsep Tuhan dalam Budaya Batak Konsep Tuhan dalam Budaya Riau Teleologi dalam Budaya Jawa Teleologi dalam Budaya Bali Teleologi dalam Budaya Batak Teleologi dalam Budaya Bugis Teleologi dalam Budaya Kalimantan Teleologi dalam Budaya Papua Fungsi Adat dalam Budaya Jawa Fungsi Adat dalam Budaya Bali Fungsi Adat dalam Budaya Batak Fungsi Adat dalam Budaya Jambi Fungsi Adat dalam Budaya Bugis Fungsi Adat dalam Budaya Papua Konsep Kematian dalam Budaya Jawa Konsep Kematian dalam Budaya Sunda Konsep Kematian dalam Budaya Batak Konsep Kematian dalam Budaya Bugis Konsep Kematian dalam Budaya Papua Konsep Kelahiran Manusia dalam Budaya Jawa Konsep Kelahiran Manusia dalam Budaya Sunda Konsep Kelahiran Manusia dalam Budaya Bali Konsep Kelahiran Manusia dalam Budaya Bugis Konsep Kelahiran Manusia dalam Budaya Papua Makna Perkawinan dalam Budaya Jawa Makna Perkawinan dalam Budaya Sunda Makna Perkawinan dalam Budaya Bali Makna Perkawinan dalam Budaya Lombok Makna Perkawinan dalam Budaya Papua Konsep Dunia Gaib dalam Budaya Jawa Konsep Dunia Gaib dalam Budaya Bali Konsep Dunia Gaib dalam Budaya Sunda Konsep Dunia Gaib dalam Budaya Batak Konsep Dunia Gaib dalam Budaya Bugis Konsep Waktu dalam Budaya Jawa Konsep Waktu dalam Budaya Sunda Konsep Waktu dalam Budaya Batak Konsep Waktu dalam Budaya Bugis Konsep Waktu dalam Budaya Papua Konsep Kawan dan Lawan dalam Budaya Jawa Konsep Kawan dan Lawan dalam Budaya Sunda Konsep Kawan dan Lawan dalam Budaya Bali Konsep Kawan dan Lawan dalam Budaya Bugis Konsep Kawan dan Lawan dalam Budaya Papua Teori Keberhasilan dalam Budaya Jawa Teori Keberhasilan dalam Budaya Sunda Teori Keberhasilan dalam Budaya Bali Teori Kegagalan dalam Budaya Jambi Teori Kegagalan dalam Budaya Lampung Metafisika dalam Kakawin Sutasoma 2.

Metafisika dalam Negarakertagama 3. Metafisika dalam Sang Hyang Kamahayanikam 4. Teori Pengetahuan dalam Kakawin Sutasoma 5. Teori Pengetahuan dalam Negarakertagama 6.

Teori Pengetahuan dalam Sang Hyang Kamahayanikam 7. Konsep Tuhan dalam Kakawin Sutasoma 8. Konsep Tuhan dalam Negarakertagama 9.

Konsep Kekuasaan dalam Kakawin Sutasoma Konsep Kekuasaan dalam Negarakertagama Konsep Waktu dalam Kakawin Sutasoma Konsep Waktu dalam Negarakertagama Konsep Manusia dalam Kakawin Sutasoma Konsep Manusia dalam Negarakertagama Kosmologi dalam Kakawin Sutasoma Kosmologi dalam Negarakertagama Etika dalam Kakawin Sutasoma Etika dalam Negarakertagama Teori Sorga dalam Kakawin Sutasoma Teori Sorga dalam Negarakertagama Teori Politik dalam Kakawin Sutasoma Teori Politik dalam Negarakertagama Teori Kebahagiaan dalam Kakawin Sutasoma Teori Kebahagiaan dalam Negarakertagama Teori Keberhasilan dalam Kakawin Sutasoma Teori Kegagalan dalam Negarakertagama Teleologi dalam Kakawin Sutasoma Teleologi dalam Negarakertagama Konsep Sejarah dalam Kakawin Sutasoma Spiritualitas dalam Kakawin Sutasoma Spiritualitas dalam Negarakertagama Teori Kehidupan dalam Kakawin Sutasoma Teori Kematian dalam Negarakertagama Ajaran Karma dalam Kakawin Sutasoma Konsep Makhluk Halus dalam Kakawin Sutasoma Maoisme Tionghoa Indonesia 3.

Teori Politik Tionghoa Indonesia 4. Rezumat - Odiseea de Homer - FamousWhy. Tot in acest timp palatul lui Orfeu este impanzit de petitorii Penelopei, sotia lui Ulise, care furau averea vechiului stapan. Diverse categorii, esoterice cat si pt. Sau a fost corupta Adevarul e in cei care urmeaza de drept cuvantul lui Dumnezeu ortodox…asta inseamna , deci nu religia. Senatul Romei nu mai avea forta de a numi un Imperator. Christos, in schimb, i-a raspuns sa astepte pana la a Doua Venire a Sa.

El reprezinta incarnarea destinului poporului evreu. The Aeneid by Virgil - Goodreads — Share book S-a facut remarcat in razboiul troian, care a durat zece ani.Kalau kami berbicara tentang kebudayaan Indonesia, kami tidak ingat kepada melap-lap hasil kebudayaan lama sampai berkilat dan untuk dibanggakan,… Revolusi bagi kami ialah penempatan nilai-nilai baru atas nilai-nilai usang yang harus dihancurkan…17 Upaya pengadopsian filsafat asing ke dalam struktur tradisional Indonesia dalam wujud proyek Modernisasi Westernisasi berada pada track yang benar, apabila dimaksudkan untuk menghancurkan sisa-sisa sukuisme dan feodalisme pra-Kemerdekaan, tapi menjadi salah- langkah, apabila ditujukan untuk membuang seluruh heritage filosofis lama.

Juga dikaji oleh W. Alam Sekitar 4. Etika dalam Budaya Kalimantan Fungsi Adat dalam Budaya Bugis Hanya metodelah yang mampu membuat still photo dari realitas filsafat yang bergerak abadi itu.

Malah, sifat ego dan tinggi diri dalm diri saintis menyebabkan teknologi yang Malah, sifat ego dan tinggi diri dalm diri saintis menyebabkan teknologi yang diciptakan melanggar hukum-hakam dan syariat Islam.

Nasroen, S. Kondisi yang sama juga terjadi ketika anda mencoba browsing di dunia maya lewat fasilitas mesin search dari situs seperti www. Ajaran Karma dalam Kakawin Sutasoma

FLORETTA from Bel Air
Look through my other posts. I enjoy kitchen chemistry. I do fancy reading books knavishly.
>